The True Cost

The-True-Cost-Movie1

stylepinner.com

 

Udah ada yang nonton The True Cost ? apa gue yang telat  ya baru nonton film dokumentar karya Andrew Morgan (2015) ini huhuhu.Kalau emang belum coba nonton deh.Eye opening banget buat gue yang ada nontonya sedih. Cuma dari selembar baju yang kita pikir lucu,bagus, murah dan keren dipakai tapi…dampaknya bisa sampai menyebabkan  global warming dan permasalahan pelik lainya. Ternyata Fashion is no 2 polluting industri in the world!! second only from the oil industry.How choosing what we wear can be world-changing.

Jadi di film ini menceritakan bitter reality behind fashion industry yang khususnya fast-fashion. Kalau di film tersebut si yang banyak disorot brand dari H**,Z***,F*1, G**  dkk. detailnya nonton aja yak ;p Kenapa lebih ke fast fashion karena kan kalau street brand gini cepet banget ya ganti koleksi. Nah ini tuh diceritain dari awal proses seperti siapa  pekerja yang ngebuat baju2 tersebut kenapa dipilih nya negara2 macam bangladesh,India,Vietnam dan sekitar ( Indonesia si gak disorot di film tersebut walau gue yakin pasti ada ) ternyata balik kepermasalahan harga upah buruh dinegara2 tersebut yang paling bisa ditekan aka murah. Berujung tidak adanya kesejahteraan buat para buruh tersebut . Tapi balik lagi mereka gak punya pilihan lain dikarenakan kebutuhan hidup, mereka merima dengan upah yang sangat minim. idealnya kalau kata salah satu aktivis buruh India yang di wawancara difilm tsb bekerja dari jam 9-5 jadi total maksimal 8jam tapi kenyataanya mereka ditekan untuk melakukan pekerjaan lebih dari 8 jam ditambah dengan kondisi lingkungan pekerja yang amat sangat tidak layak. Istilahnya untuk baju2 ini  disebut “sweatshop” karena kondisi bangunan yang tidak memadai, sirkulasi udara tidak bagus, jam istirahat kurang. Diceritain juga kalau beberapa tahun lalu kejadian dengan runtuhnya salah satu bangunan pabrik “sweatshop” terbesar di bangladesh yang menyebabkan banyaknya korban jiwa. Padahal katanya para buruh sudah complain ke manajemen kalau kondisi bangunan pabrik tersebut sudah amat sangat tidak layak, tapi dicuekin ya akhirnya . ambruk juga. Trus dengan entengnya diceritakan  si perusahaan baju tersebut hengkang tanpa ganti rugi pindah lokasi pabrik kenegara lain yang mau menerima tarif yang mereka tawarkan.

Itu dari segi buruh ya diceritakan lagi dari segi bahan  yang dipakai dari awal proses misal kaya pembuatan sepatu atau tas, bahan yang dipakai seperti apa , pemilihanya bagaimana. Dikarena si perusahaan baju tsb ( western corporates) pengen dapat keuntungan besar mereka dengan igonorant rela menggunakan bahan yang sebenernya gak bagus truss..pembuatan bahan2 tersebut  semakin lama membuat kondisi karyawan dan lingkungan jadi ikut terganggu. Bisa terlihat jelas sistem pembuangan limbahnya yang gak bagus atau memenuhi syarat akhirnya membuat lingkungan sekitar tercemar  .Dampaknya buat karyawan yang sehari hari menghirup berbagai macam zat kimiawi dari produk yang mereka pakai jadi sakit sakit-an trus buat wanita hamil melahirkan anak yang cacat 😦 belum lagi efek buat penduduk yang tinggal di sekitaran pabrik ..mereka yang menggunakan air dari sungai sekitar atau bahan pangan yang sudah tidak layak digunakan akibat tercemar polusi pabrik tsb.

nah masih berkaitan dengan bahan yang digunakan saking jaman sekarang tuh permintaan akan fast fashion ini tinggi banget jadi kaya produk mentah semisal kapas atau land use pun udah bukan yang menggunakan bahan alamiah lagi udah semua semua itu buatan deh tidak terlepas pastinya bahan  kimiawi terlibat diharapkan biar semua tumbuh cepat.Kalau jaman dulu diceritain semua kan masih alamiah pengerjaanya mulai dari tanam bibit-pupuk, perawatan hingga panen masih dilakukan petani dengan manual. sekarang katanya dah gak bisa lagi saking tiap hari mereka mengejar target harus mengirim minimal berapa ton ke pabrik A atau B ..dampaknya lagi lagi ya kepermasalahan fisik para karyawan/petani yang mengerjakan tersebut. Sepenggal cerita banyaklah yang menjadi korban bahkan meninggal.

Belum lagi permasalahan sampah baju bekas yang semakin lama semakin menumpuk dan mencemari lingkungan. Jadi kaya di amerika itu biasanya kan kalau barang2 sudah tidak terpakai didonasiin ke toko charity agar dapat dijual lagi nah ternyata hal tersebut gak cukup membantu hanya sekitar 10% yang laku terjual sisanya? mau gakmau menjadi sampah atau dikirim ke third world country gitu macam Haiti disitu diliatin betapa banyaknya sampah baju bekas yang sudah gak terbendung lagi sangat sedikit bahan2 yang bisa didaur ulang sisanya mau gak mau numpuk aja gitu.

Kompleks banget ya ternyata permasalahanya..klo difilm tersebut semua ya berawal dari semakin maraknya konsumerisme yang becoming more active and taking charge alot.Apalagi ditambah dengan bermunculan pihak2 ketiga macam buzzer2 yang bermunculan di internet , strategi marketing perusahaan yang besar2an yang makin mempengaruhi kita buat beli dan beli dan beli..klo kata salah satu pakar aktivis lingkungan hidup Livia Firth dan juga founder of the green crapet challenge ” Sebenernya dengan kita membeli barang barang yang dianggap murah atau  sale gak membuat kita lebih bagus atau merasa kaya malah membuat kita semakin miskin” 

Klo dipikir2 kan iya juga ya apa-apa kita pengen beli, mentang2 sale kita tergiur beli,pikiran wajib punya, temen bilang ini bagus banget, review blogger ini keren dll ..pokoe beliiii aja urusan lain bodo amat. ya gak si?? gue nulis ini bukan berarti gue udah gak beli barang dari brand tersebut..atau dah ikutan jadi aktivis lingkungan .Jujur sembari nulis ini gue juga masih lagi pake kaos and celana dari salah satu brand tersebut. Tapi sejak nonton itu gue jadi belajar dan berusaha buat lebih bijak teliti sebelum membeli walau kadang masih susaaahhhh pastinya ya…ya klo gak perlu2 amat gausa beli baju lagi dan lagi dan lagi. Walau masih lah gue tergiur  beli ina itu juga  without thinking about where it’s come from and what role it played in the environment, workers behind these clothes proses. Trus kemarin gue liat postingan Noni tentang kampanye #beliyangbaik  agar kita teliti sebelum membeli barang .Emang  jaman sekarang efeknya  dah semakin kompleks buat bumi makin tercemar.Iklim makin gak jelas..berasa kan ya?? di Hongkong sekarang katanya cuaca makin aneh , ini winter teraneh ditambah dengan polar vortex yang terjadi  beberapa minggu lalu disini suhu drop jadi 0 derajat. Padahal katanya Hongkong  gak pernah ngalamin hal gitu sejak puluhan tahun lalu.Atau masalah global lainya.

Ya mungkin bisa lah kita berpartisipasi dari hal simple dulu kaya bawa plastik sendiri dimana ini gue dan chicco dah lakuin walau belanja ke butik atau secondhandshop ( walau kadang masih suka kelupaan bawa palstik dari rumah) sekarang lebih milih hunting secondhandshop atau barang2 yang support for good cause.Pernah juga baca dimana gitu lupa ( lupa mulu deh lo Nis )  katanya juga dalam islam sebaik2nya pakaian itu yang harganya tidak terlalu jauh dari harga kain kafan..

Terakhir sebelum gue sudahin postingan ini ada satu kalimat that I still keep it heart dari salah satu buruh wanita yang diwawancara di film tersebut dia bilang ” yess I struggled . They dont know what they wearing.actually they wearing clothes with our blood”

 

 

42 thoughts on “The True Cost

  1. HUaahh, setelah dipikir-pikir emang iya. limbah pabrik textile itu emang parah, belom lagi yang lainnya ya, limbah baju bekasnya. Indonesia sendiri kayaknya masuk ke negara ke3 yang dapet limpahan juga hahahaa. Di pasar Senen banyak soalnya jualan baju bekas branded murah-murah 🙂

  2. Nisa, tulisan ini bagus banget 🙂
    emang bener sih, kita suka gak sadar aja ya soalnya gak tau cerita gimana apa2 yang kita pakai dan konsumsi. Taunya udah jadi aja padahal cerita dibaliknya banyak yang “mengerikan” dan berbahaya.
    Aku juga skr lebih seneng beli baju second loh hehe, yah gak semua tapi adalah beberapa.

    • Iya non kaget pas nonton ini ternyata oh ternyata..walau dari dulu sering si denger klo merk2 tsb memang mempekerjakan buruh overtime tapi gak sampai ngerti and tau dengan mata kepala sendiri struggle mereka si para buruh seperti apa. Cuma buat bener2 gak pakai produk itu sama sekali ya belum .. dilemari kebanyakan baju2 ya dari merk2 itu. tapi belajar buat lebih bijak kedepanya itung2 ngemat duit juga. nah aku sekarag kerjaanya mantengin website secondhand terus Non ahahahah . apalagi barang2 expart yang pada mau pindah2 gitu suka masih bagus2 ;p

  3. Ya ampun, ga pernah terpikir oleh saya baju yang dipajang bagus di etalase dibuat dengan pengorbanan. Jadi berkaca juga. Perlu bijak juga dengan apa yang musti dibeli saat ini. Tapi kadang jadi buah simalakama juga ya. Kalau nggak ada yang beli lagi akhirnya produksi menurun, ketika menurun menyebabkan lapangan pekerjaan tutup. Ownernya siyh ga rugi, tapi seluruh buruhnya sangat jadi korban. Malah jadi lingkaran yang mengerikan ya, padahal ini yang kita pakai sehari2.

    • Hi Sandrine, Iya aku juga gak nyangka idbalik mewah nya sebuah baju dipajang di toko2 tersebut tersimpan cerita yang sedih. Nah di film tersebut juga ada kutipan wawancara dengan salah satu pakar ekonomi gitu “klo gada permintaan ya gak akan ada produksi dll dan gak akan terciptanya la[angan kerja buat kaum tersebut. malah seharusnya para buruh tersebut berterima kasih masih ada kesempatan bekerja buat biaya hidup” dia ngomong blak2an seperti itu emang ada benernya juga cuma satu sisi miris aja…huhuhu bingung kan ya jadinya.

  4. Gue kemarin ini abis declutter alias bersih2 isi rumah Nis.Huaaah sampahnya banyak banget. Gue jadi merasa bersalah bertapa gue konsumtif banget. Apalagi baju, tas dan buku. Untung buku masih bisa di jual, dan lainnya ada pembantu & anaknya yang mau nampung. Abis itu gue janji banget lebih selektif beli barang apalagi buku dan tas. Selain mau berhemat juga ngurangin sampah. Pake dulu sampe maksimal baru kalo udah gak bisa di buang.
    Btw sekarang tenaga kerja di Indo udah masuk mahal Nis, ga semurah di Bangladesh. Jadi banyak pabrik yang hengkang. Hmm sebenernya dilema juga ya, kalo industri fashion ga jalan bakal banyak yang jadi pengangguran. Cuma kalo terus kayak gini emang bener, sampah bakal makin numpuk. Gue aja kalo kurang kerjaan suka mikir, baju2 after fashion show (yang kadang aneh2) di kemanain ya? :/

    • nah iya May satu sisi kalau gak ada lapangan kerja itu pengangguran semakin banyak trus ada yang bilang gini di film harusnya para buruh tersebut berterima kasih dengan para pembeli aka konsumen kaya kita karena masih bisa idup masih bisa makan istilahnya kita2 ini ikut ngebantu perekonomian rakyat kecil tersebut. cumaaa kok ya sedih banget deh may liat penderitaan mereka . disitu bener2 diliatin sweatshop itu kkondisi seperti apa..efek yang mereka terima gimana kalau mereka gak patuh dengan aturan yang ada. bahkan mereka suka dipaksa kerja rodi dengan dipukul dan dianiyaya. wajarlah si buruh bilang klo baju yang kita pakai ya menggunakan darah perjuangan mereka.
      bingung kan ya…huhuhu

      • Iya, dilema juga ya Nis kalo begitu. Mungkin dengan film itu, kita jadi lebih selektif sama brand. Yang pake fair trade itu yang dipilih. Kita sebagai konsumen mesti lebih aware dan cerdas ujung2nya. Kalo gue pikir sih, dengan kita beli dari brand yang gak fair, itu gak membuat orang2nya juga hidup lebih baik sih Nis 😦

  5. Actually, they wearing clothes with our blood…. sedih mbak 😦
    Aku jarang banget beli baju. Serius. Lebaran dimana semua org heboh pingin baju, kalo bajuku masih bisa dipake ya aku ga beli. Tapi aku suka konsumtif beli buku dan nimbun barang lainnya. Huhuhu.
    Sedih ya, atas nama fashion ternyata dibaliknya ada cerita spt itu. Tulisan yg bagus mbak

    • Na nontonya lebih sedih lagi liat dia ngomong gitu, huhuhuhu..aku tuh ngerasa bersalaaahhhhh banget after nonton film nya secara suka banget kemaren2 beli beli dari produk2 tsb. Sekarang aku ma chicco brusaha beli brang sesuai kebutuhan atau beli di toko2 second yah gak drastis 100% berubah tapi pelan2 lah…

  6. Sewaktu aku dan adik2 masih kecil, Bapak selalu bilang “kalau kalian beli baju 1, keluarkan 1 baju yang masih bagus dari lemari dan berikan ke orang yang membutuhkan. Jangan simpan barang2 yg sekiranya ga akan pernah dipakai lagi” akhirnya nancep banget buat kami. Jadinya kami terbiasa beli baju, sepatu, tas kalau bener2 butuh. Makanya sampai bertahun2 barangnya itu2 aja haha. Ga modis ga apa2 deh. Ga jadi penimbun. Mudah2an dengan cara ini punya kontribusi buat kelangsungan bumi.
    Tulisannya bagus Nis, jadi pengen lihat filmya.

    • Iya mba idealnya ketika beli baru yang lama disumbangkan yaa biar bisa berguna ke orang yang lebih membutuhkan, tapi kadang praketeknya aku suka lupa. cuma inget beli beli dan beli ampe jadi penimbun barang. Makanya chicco suka marah2 terus. nonton film ini jadi reminder buat aku agar lebih wise lagi kedepanya gak konsumtif dll. walau pastilah prakteknya susah banget apalagi jaman sekarang gencar iklan dimana2 buat kita gampang tergiur…. 😦

  7. Bentar ya kak kuliat koleksi pakaianku dulu brb cek lemari
    Alhamdulillah baju2 yg disebut diatas gapernah hasil beli sendiri, kak. Punya beberapa tapi itu hasil dikasih/dibeliin (bukan lingkup keluarga). Aku diajarin mama, kalo beli sesuatu diperhatiin harga dan kualitasnya, sesuai ga? Termasuk pakaian. Kalo dari jauh udah keliatan gampang robek, bahannya tipis/menerawang, jahitan ga oke, mendingan jangan dibeli. Sayang umurnya ga sebanding sama harganya.
    Akhirnya sampe skrg kebanyakan pakaianku tuh ya yang unbranded ones tapi bahannya enak dipakai, nyaman, menyerap keringat (penting!), pokoknya yang model PLKJ (pendidikan lingkungan kehidupan jakarta) lah kak. Pelajaran anak SD 😆

    • aahhh Geee lemari aku masih banyak dari brand2 tersebut . kemarin2 aku gak kepikiran soal ini sapai akhirnya nyaksiin sendiri difilm tersebut efek dari selembar baju yang bisa berimbas kemana-mana. huhuhuhu

  8. T______________T
    Sempet tau berita yang ambruknya pabrik di bangladesh itu.. halo gaks alah si Hn* yaaa.. tapi gak tau kalo ternyata mereka kayak lepas tanggung jawab.
    Rasanya emang susah banget lepas dari merk2 macem Hn* (apalagi Hn* Kids!) namanya cewek ya kaaan… kayaknya kalo pake baju yang itu2 aja bawaannya cranky.. bahkan aku juga suka cranky kalo liat ammar kaosnya itu lagi itu lagi… haiyaaaa… this is such an eyes opener

    • nah iyaaa Dis….yang meninggal ribuan gitu huhuhu diliatin banget puing2 ambruknya dan keluarga korban yang kehilagan dan sedihhhh banget aku liatnya. trus ada juga pabrik yang kebakaran di bangladesh or india gitu..duhh miris lahhh. tapi satu sisi sebenernya dengan adanya pabrik tersebut klo diliat dari segi ekonomi kan tercipta lapangan kerja yaa jadi mengurangi pengangguran cuma karena gak adanya kesejahteraan efeknya gak bagus aja nyiksa para karyawan tersebut. Masalahnya kalau upah naik berarti harga2 dari brand tersebut gak akan murah dan bakalan mahal juga trus siapa yang sanggup beli secara jaman sekarang semua dah serba susah dan apa2 mahal…bingung kan ya. Samalah Dis aku kaya kamu seneng liat sale baju2 anak beli…ini lucu buat anak beli..trus sekarang ngerasa bersalah dong huhuhu

  9. masalah upah buruh murah di industri fashion, pernah disinggung sekali di salah satu episod Friends (that means: decades ago). dan juga muncul sebagai contoh kasus di serial TV lain yg lebih baru. tp aku gak pernah bener2 paying attention, not until I read this post. so thanks for sharing 🙂 anyway, aku juga lagi struggling ingin menerapkan frugal living (terutama menyangkut bebelian baju, jilbab, tas, dll) tapi yah masih struggling…..

    • aku juga sebelumnya pernah dengar masalah upah buruh murah di dunia fast fashion industry ini tapi gak taunya ada dampak lain yang bener2 buat mereka sengsara batin dan fisik. sedih deh Tyk nyaksiin para buruh ini …waktu di sydney aku seneng anget banyak toko2 second murah deket apt ahahaha ..jadi uang kesimpen banyak disini agak susah…
      sama tyk aku juga lagi nerapin how to live frugally, baca sana sini trus trying for lifestyle change and a conscious awareness buat spending and saving.tapi tapiii…..its harder to actually implement that…..yah yang penting usahaa

  10. jleb banget tuh mbak Nisa kata-kata terakhirnya.
    duh postingan ini sama postingan mbak Nnni kemarin ngingetin banget untuk makin merhatiin apa-apa yang kita makan dan pakai sehari-hari. Emang sih selalu usaha untuk ga gampang tergiur beli baju brand tertentu, tapi tetep aja ga sampai kepikiran kalau asal baju yang dipakai dari mana 😦

    • Nah Iya makanya di film disinggung banget jaman sekarang tuh semua semakin gamblang buat menarik perhatian konsumen digunakan berbagai macam cara, mulai dari iklan yang menarik, sale besar2an, hingga review dimana2 bahkan disinggung pula kaya para vlogger2 di youtube..lebih nekanin ke anak muda si yang gampang banget tergiur akhirnya jadi konsumtif hidup jadi gak seimbang efeknya kemana2…aku juga sebelum nonton ini gak pernah kepikiran dibalik baju yang aku beli terdapat cerita yang amat panjang dan sedih. feeling guilty 😦

    • Nonton deh filmnya san..huhuhu sedih banget. Ini aku sebenrnya masih dikit yang aku share dan ngacak kalau difilm dijelasin dari awal ampe akhir dengan detail. makanya bener2 such an eye opening banget 😦

  11. sedih banget bacanya Nis, gw sendiri kebetulan bukan penggemar baju merek-merek high street tapi zaman sekarang baju di tanah abang pun datangnya yaa dari China juga 😦

    • apalagi nonton bagian si buruh wanita itu bilang “they wearing cloths with our blood” secara mereka beneran kaya disiksa dipukul dll kalau gak mau nurut dengan aturan manajemen pabrik tempat mereka bekerja. Ohya aku lupa juga ada juga difilm tersebut pabrik dari cina yang nasib karyawanya nelangsaaaaa banget huhuhuhuhuhu
      feeling guilty !!! tapi satu sisi kalau gak ada industri fashion ini gak akan ada lapangan kerja buat mereka trus klo gak ada kerjaan pengangguran banyak ntar efeknya ke tingkat kriminalitas tinggi…timbul masalah baru mblunderrr aja gitu masalahnya yakk

  12. eh film ini masuk indo gak yah, nis?

    Bisa ditonton anak seumur Fayra kah?

    Dia lagi semangat dengan segala sesuatu yg berbau fashion. Siapa tau film ini bisa membuka wawasan Fayra ttg behind fashion industry gitu

    • Bisa banget kok mba ,Fay nonton ini malaj bagus bisa liat bagaimana proses dibalik megahnya fashion industry dan ada juga contoh designer2 yang peduli lingkungan dan bener2 memperhatikan proses produksi hingga pekerja yang dipekerjakan.

      Aku nonton di netflix , mungkin di netflix Indo juga masuk mba

  13. Hi mba Nisa, Salam kenal..
    Aku Shinta, silent reader blog and follower IGnya mba Nisa.
    Tergerak pengen ikut komen, karena dari dulu banget aku emang ga pernah punya banyak baju. Bisa diitung jumlah baju+celana+rok aku ada berapa. Bukannya ga mampu beli, malah kadang sampe dipikir pelit sama diri sendiri loh saking ga pernah beli-belian fashion items hehe.
    Jadi dulu mba, adekku itu suka banget beli baju dan sepatu, dan cuma dipakai sekali. Bajunya banyak banget, sampai kalau kita ambil setumpuk bajunya buat dikasihin ke sodara di kampung, dijamin dia ga bakalan tau. Tapi semakin kesini, ga semua sodara di kampung lagi yang mau dikasi baju lungsuran punya dia. Nah akhirnya kan terpaksa dibuang ya.
    Trus dari situ aku mikir, duh ternyata baju ini menambah kontribusi sampah, mau dikemanain? Trus ya kalau di lingkunganku, sampah itu walau kita udah pisah dengan rapi, tapi sama tukang sampah tetep akan digabung sama sampah rumahtangga lainnya, menurut analisaku kemungkinan untuk didaur ulang lagi udah ga ada, hehehehe..
    Ya begitulah mba, kalau bukan karena baju robek, ya ga beli baju. Bodo amat deh biar dikata orang pelit, ga punya selera fashion, daripada nambah limbah 😀
    Maap malah ngga komentarin tema utama “pekerja di balik layar” industri fashionnya hihihi.

    • Hai Sinta salam kenal juga, sebelumnya terima kasih ya sudah mampir dan comment di blog ini trus juga follow IG ku..senang sekali 🙂

      Good for you klo punya pemikiran beli sesuai kebutuhan. Gak kaya aku dulu sebelum punya anak wahhh apa2 beli baju terus, gak taunya efeknya merugikan banget. nonton film ini bener2 ngebuka mata aku banget dari selembar baju yang aku beli itu dibaliknya banyak sekali pengorbanan yang dibutuhkan belum lagi efek dari sampah baju yang susah buat didaur ulang.

      Sekarang berusaha banget lebih bijak nahan diri gak gampang bebelian lagi walau susaahhhhhhh. iya jujur susah banget. apalagi ditambah godaan sale sana sini, model2 nampilin koleksi keren2..palingan lebih sering mantengin toko2 second atau barang yang emang misinya for good cause.

    • Nah Iya Ji kepikiran beli produk lokal aja atau beli second hehehe..aku juga masih kepikiran Ji, berusaha nahan2 gak terlalu banyak beli baju2 lagi walau susahhhhh buanget kan huhuhu

  14. thanks nisa buat artikelnya. jadi inget ak untuk lebih bijak pas beli2 pakaian nih. ak juga sering bgt beli baju yg cuma d pake dua tiga kali doank, abis itu dilupain. huhu kebiasaan jelek yg harus d tinggalkan.

    • Nonton filmnya Shin lebih maknyosss lagi serasa ketampar selama ini kita gak sadara efeknya dan darimana asal muasal baju tsb..ternyata oh ternyata 😦
      samalah aku juga suka gitu beli baju 1-2-3x pakai trus nganggur aja gitu dan beli lagi dan lagi . feeling guilty 😦

  15. Huah Nisa… artikelnya bikin membuka wawasan!
    Udah beberapa tahun terakhir ini gue mencoba membeli baju bekas dibandingin yang baru. Selain harganya jauh lebih murah karena banyak cewek-cewek di luar sana yang beli baju berkualitas terus hanya dipake sekali dua kali udah dijual lagi, gue juga suka merasa bersalah buang baju murahan ke clothing bin kan belum tentu ada yang make lagi and teruskan jadi sampah 😦

    • nah Mar waktu di Sydney gue lebih seneng hunting baju bekas secara banyak banget toko2 second bertebaran disana dengan kualitas yang masih bagus. yah gak dipungkiri juga walau beli juga yang baru klo lagi ke mall dan sale..di HK ini susaahhhhh bener nyari toko second yang oke palingan sekarang2 gue suka mantengin garage sale2 para ekspat yang pindah2 gitu soale mereka barang masih suka bagus2 hehehe.
      duuhh lo klo nonton filmnya pasti sedih deh…ngeliat gimana buruh itu “kesiksa”

  16. Hi Nissa, saya silent reader slamaa ini.
    Saya pernah diajak teman nonton film juga yg dibikin oleh NGO asing tp lupa judulnya, ttg upah buruh dinegara berkembang termasuk di Indonesia (namanya disebut juga loh) dan pekerja pabriknya digaji saat itu (saat itu, krn udah lama sekali saya nonton skitar 8/9th lalu) itu ibaratnya cuma harga semeter benang jahit buat bikin celana kolor yg branded itu. Tp ttg limbah baju bekas meski saya kira baju saya ga banyak tapi tulisan ini nyentil saya banget. Trimakasih ya dah share cerita film saya musti nonton kayaknya.
    Salam kenal.

    • Hai Ru, sori sebelumnya dipanggil siapa ini hehe, salam kenal juga. makasih sudah main2 dan baca blog ini 🙂

      Iya film ini bener2 membuka mata aku banget terutama efek dari limbah baju bekas yang gak semuanya bisa didaur ulang membuat efeknya bener2 gak bagus juga buat lingkungan. dan jujur aku juga baru tau kalau dunia fashion itu polusi terbesar no 2 setelah oil . mesti nonton film ini walau agak panjang kisaran 2jam tapi emang dibahas detail dan sedih aja si..apalagi liat nasib buruh tersebut.

  17. Nisa..Artikel mu bagus sekali..selama ini gak enggeh mikir sampai kesitunya…Alhamdulillah aku baju gak mesti branded,dan gak terlalu ikuti perkembangan mode, serasa punya style sendiri kombinasikan baju ini dan itu……he..aku mau share artikel mu ke anak ku yang ABG,..makasih y

    • Monggo Mba..silahkan. aku juga gak pernah kepikiran sekarang harus lebih detail lagi sebelum membeli sebuah produk apapun itu walau cost money nya kadang lebih dari yang barang biasa yaaa huehehe. Atau gak yaa cari barang second..

Comments are closed.